The Road to Mecca (Buku Pertama)

by Muhammad Asad

by Muhammad Asad

Judul: The Road to Mecca (Buku Pertama)

Penulis: Muhammad Asad

Penerjemah: Fuad Hashem

Penerbit: Mizan

Jumlah Halaman: 343

Tahun Terbit: Desember 2003

Genre: Non Fiksi

ISBN: 979-433-348-4

Blurb:

“Sebuah narasi yang kuat dan indah…lahir dari kedalaman pengetahuan penulis tentang penduduk Timur Tengah dan problematikanya.”

–Times Literary Supplement

The Road to Mecca menghidangkan drama hidup seorang anak manusia Eropa, tentang masa-masa pengembaraannya, sepanjang tahun-tahun di sekitar Perang Dunia Pertama, mengarungi hampir seluruh negeri Timur Tengah, di antara Gurun Libia dan Pegunungan Pamir yang berselimut salju, antara Bosporus dan Laut Arab. Dijelajahinya kota-kota besar di Arabia, Suriah, Iran, Mesir hingga Turki, melewati padang-padang tandus mahaluas Rubal-Khali (Gurun Kosong) yang tak terjamah manusia, Padang Esdrelon, Kush-i-Gushnegan (Pegunungan Lapar), Gurun Nufud, “Gurun Telanjang” Dash-i-Luth–yang membentangkan ketandusannya dari Baluchistan menembus jantung Iran–hingga Perbukitan Jabal Syamar. Di tempat-tempat itu, sang musafir berkenalan dengan ‘Umar Al-Mukhtar (Lion of the Desert), Sayyid Ahmad (Sanusi Akbar), dan para mujahid lainnya pada masa itu. Tetapi lebih dari sekadar pelancongan biasa, segala warna-warni kisah itu sebenarnya hanya melatari suatu pengembaraan yang lebih intens–pengembaraan yang penuh drama. Jadilah The Road to Mecca, pada waktu yang sama, sebuah perjalanan menuju Islam.

REVIEW:

Luar biasa! Seperti tak ada bosannya saya begitu menyukai buku-buku petualangan. Saya bisa melayang begitu jauh tak kenal waktu dan masa, hinggap dimanapun tanpa lelah.

Buku ini adalah salah satu buku favorit saya, entahlah saya speechless, saya telah baca berkali-kali, tapi setiap kali membaca selalu saja ada hal baru yang saya temukan seolah-olah  belum saya baca.

“Saya–gumpalan daging dan tulang, dengan sensasi dan persepsi–telah ditempatkan dalam orbit mahluk manusia, dan berada dalam segala yang terjadi.” 

“Bahaya” hanyalah ilusi, tak pernah ia akan “mengatasi saya”; karena segala sesuatu yang terjadi atas diri sayahanyalah bagian arus yang merangkul segalanya dan saya sendiri menjadi bagiannya. Adakah barangkali bahaya dan keselamatan, maut dan kegembiraan, nasib dan pengabulan, hanyalah segi yang berbeda dari gumpalan agung lagi kecil, yakni saya sendiri? Alangkah besarnya kemerdekaan tak kunjung akhir wahai Tuhan, yang telah Engkau anugerahkan kepada manusia.”  (hal 53)

Sarat makna, perenungan dalam akan diri. Sama ketika beberapa tahun lalu dalam kegoncangan jiwa saya sering kali mempertanyakan tentang “Saya”? Membaca buku ini seperti de javu dan menemukan titik kesadaran yang semakin menguat tentang, bahwa diri ini adalah semesta ajaib yang Tuhan ciptakan sebagai manifestasi-Nya. Keunikan setiap diri tiada banding, ia tumbuh berbeda satu sama lain, sekaligus sama dalam perbedaan itu. Diri, adalah gabungan keindahan hakiki Tuhan, di dalam dan di luar-Nya.

Muhammad Asad menulis dengan bahasa yang lembut menawan. Ia berbicara pada jiwanya sendiri. Sebuah perjalanan menjelajahi padang pasir tandus memang memiliki arti hebat. Penjelajahan yang bukan sekadar fisik, tetapi ruhani. Pencarian akan jati diri sesungguhnya.

“Benar, banyak di antara konsep-konsep mereka yang primitif dan semangat mereka yang kadang-kadang hanya terbatas pada sifat fanatik. Namun, tuntunan serta pendidikan layak yang diberikan, pengabdian agama yang dalam, pasti memungkinkan meraka memperluas pandangan dan nanti, pada suatu waktu, menjadi suatu kebangkitan spiritual dan sosial yang asli di seluruh negeri Arabia.” (hal 328)

Sebuah harapan dalam ketika bertahun mengarungi keluasan padang tandus dan bercengkrama dengan penduduknya, Muhammad Asad menginginkan kedamaian dan kebersahajaan mereka tetapi melekat dan menjadi ciri khas. Tanpa dinodai prasangka, kefanatikan yang membuta, serta kemalasan yang mejadi-jadi. 

Harapan yang harus diperjuangan hingga saat ini, saya pikir.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s